Ketika
kuliahku hampir selesai, aku merenungi 3 tahun sebelumnya.
Kenapa aku
harus kuliah?,kenapa aku harus menempuh jurusan ini? Dan kenapa sampai saat ini
aku sama sekali tidak mengetahui tujuan yang harus dicapai dari ilmu yang aku
tempuh saat ini.
Memang penyesalan itu selalu datang pada
saat hampir ending sebuah cerita.
Jujur IPK-ku
saat ini jauh dibawah rata-rata. Dan aku menyembunyikan ini semua dari orang
tuaku. Aku sama sekali tidak bisa habis pikir jika nantinya ada suatu kendala
dalam perkuliahanku nanti.
Aku hanya
berharap semoga Tuhan memberi jalan yang terbaik untukku. Setiap kali melihat
teman-temanku bekerja, dan harus meninggalkan kuliah mereka. Kadang aku iri,
kenapa aku tidak semulia mereka. Kenapa aku harus tetap tinggal disini untuk
menunggu sebuah keajaiban datangnya kelulusan,
Memang ini
adalah takdir yang salah yang berani aku tempuh.mengambil jurusan yang bertolak
belakang dengan kemampuanku semasa SMA dulu. Aku kira jurusan ini mudah
dipelajari. Dan ini salah...
Awalnya memang
aku tak pernah berniat untuk kuliah. Tapi sebuah keadaan yang membuatku untuk
berfikir kuliah itu penting. ..ini adalah kisah cintaku...mengejar cinta yang
berharap kembali ke pangkuan. 3 tahun menunggunya ,yang datang hanyalah
sia-sia..
Bahkan akupun
lelah untuk menunggunya. Pudar sudah cinta itu. Dan rasa itu hilang...
Rasa yang
tersisa adalah penyesalan kepada keluarga,terutama kakakku tercinta..bersusah
payah membujukku untuk mendaftar di sekolah pramugari.dan saat itu pintu itu
terbuka lebar.sangat lebar..mungkin jika aku menurutinya, pasti aku sudah
menyambut dunia dengan senyuman.
Hanya
gara-gara sebuah cinta mati itu, semua harapan masa depan semakin menjauh..
Kutipan-kutipan
kata bijak yang selalu terlontar seakan membeku..
Dan sekarang
pada akhirnya, cinta itu hilang bersamaan dengan masa depan 3 tahun yang lalu.
Kenapa kalian wahai takdir,datang secara bersamaan.
Kenapa kalian
takdir, tak membimbingku dengan benar.
Kenapa kalian wahai takdir membuatku
berfikir..
kala itu..kau
tajamkan otakku..kenapa bukan hatiku.
Dan kini, aku
hanya bisa berjalan diatas rell mengikuti alur kereta yang berjalan...semoga
dipersimpangan jalan aku menemukan sesuatu yang indah...
Wahai Pembuat
Takdir...kembalikan Takdirku
Kini hanyanya
sahabat-sahabatku yang menguatkanku atas keadaan ini..
Mengeluhpun
saat ini bagaikan membekas di hati tak tersampai ditelinga...