Rabu, 01 Mei 2013

putus asa

Ketika kuliahku hampir selesai, aku merenungi 3 tahun sebelumnya.
Kenapa aku harus kuliah?,kenapa aku harus menempuh jurusan ini? Dan kenapa sampai saat ini aku sama sekali tidak mengetahui tujuan yang harus dicapai dari ilmu yang aku tempuh saat ini.
Memang penyesalan itu selalu datang pada saat hampir ending sebuah cerita.
Jujur IPK-ku saat ini jauh dibawah rata-rata. Dan aku menyembunyikan ini semua dari orang tuaku. Aku sama sekali tidak bisa habis pikir jika nantinya ada suatu kendala dalam perkuliahanku nanti.
Aku hanya berharap semoga Tuhan memberi jalan yang terbaik untukku. Setiap kali melihat teman-temanku bekerja, dan harus meninggalkan kuliah mereka. Kadang aku iri, kenapa aku tidak semulia mereka. Kenapa aku harus tetap tinggal disini untuk menunggu sebuah keajaiban datangnya kelulusan,
Memang ini adalah takdir yang salah yang berani aku tempuh.mengambil jurusan yang bertolak belakang dengan kemampuanku semasa SMA dulu. Aku kira jurusan ini mudah dipelajari. Dan ini salah...
Awalnya memang aku tak pernah berniat untuk kuliah. Tapi sebuah keadaan yang membuatku untuk berfikir kuliah itu penting. ..ini adalah kisah cintaku...mengejar cinta yang berharap kembali ke pangkuan. 3 tahun menunggunya ,yang datang hanyalah sia-sia..
Bahkan akupun lelah untuk menunggunya. Pudar sudah cinta itu. Dan rasa itu hilang...
Rasa yang tersisa adalah penyesalan kepada keluarga,terutama kakakku tercinta..bersusah payah membujukku untuk mendaftar di sekolah pramugari.dan saat itu pintu itu terbuka lebar.sangat lebar..mungkin jika aku menurutinya, pasti aku sudah menyambut dunia dengan senyuman.
Hanya gara-gara sebuah cinta mati itu, semua harapan masa depan semakin menjauh..
Kutipan-kutipan kata bijak yang selalu terlontar seakan membeku..
Dan sekarang pada akhirnya, cinta itu hilang bersamaan dengan masa depan 3 tahun yang lalu. Kenapa kalian wahai takdir,datang secara bersamaan.
Kenapa kalian takdir, tak membimbingku dengan benar.
 Kenapa kalian wahai takdir membuatku berfikir..
kala itu..kau tajamkan otakku..kenapa bukan hatiku.
Dan kini, aku hanya bisa berjalan diatas rell mengikuti alur kereta yang berjalan...semoga dipersimpangan jalan aku menemukan sesuatu yang indah...
Wahai Pembuat Takdir...kembalikan Takdirku
Kini hanyanya sahabat-sahabatku yang menguatkanku atas keadaan ini..
Mengeluhpun saat ini bagaikan membekas di hati tak tersampai ditelinga...